Thursday, April 3, 2014

Dan Ketika Seorang Menteri RI Mengontrak Rumah

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang padat rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang besar. Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah dan kasur-kasu digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan anak-anaknya. 
Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri. 
Begitulah seperti dikisahkan Mr. Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan, Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan bahwa H. Agus Salim hidup sebagai Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah kontrakkan ke kontrakkan lain. Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali Agus Salim pindah rumah bersama keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin,” kata Profesor Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi Khusus Agus Salim) Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya rusak. Setiap Agus Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun menangis sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber. Zainatun Nahar istrinya,tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia muntah-muntah. 
Agus Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC dan ia sendiri yang membuang kotoran istirnya menggunakan pispot. Kasman Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama), dalam ‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling terkenal: “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim. Lihatlah bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan, tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas ke luar negeri untuk pelesiran, dll. Saat salah satu anak Salim wafat ia bahkan tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.” 
Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’ Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.” Ya, seorang diplomat ulung, menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah. Seorang yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan gemerlap jantung kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan nurani rakyat. Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas tambal, mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri keuangan Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga Allah hadirkan mereka, sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah gemerlap karpet merah Istana dan Senayan.

Kisah Abu nawas dan Tukang Cukur

"Hay Abu Nawas !! aku lihat kau selalu datang ke masjid itu dan melakukan shalat, kau ini menyembah apa?" tanya tukang cukur sambil mencukur rambut Abu Nawas.Abu Nawas terkejut. "Hah, kenapa kau tanya seperti itu ? Aku Menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, Yang telah menciptakan kita!" jawab Abu Nawas."Hahahahaha, Tuhan yang mana wahai abu nawas? Tuhan itu tidak ada !! buktinya jika Tuhan itu ada tidak mungkin akan ada orang yang melarat didunia ini, tidak akan ada orang yg susah, orang yg hidupnya sering menderita !!, tidak mungkin jika Tuhan Yang Maha Penyayang itu benar2 ada!" sanggah tukang cukur."Ya sudahlah kalau begitu, aku tidak mau di cukur olehmu, sudah saja" jawab abu nawas" Kenapa? cukurannya belum selesai, rambutmu akan terlihat aneh jika berhenti sekarang"Abu Nawas tidak menjawab dan membersihkan pakaiannya dari rambut. 
Iya diam sejenak lalu melihat ke cermin. Tiba2 saja dia berujar."Hai tukang cukur, sebenarnya tukang cukur itu tidak ada!!!""hah?? Apa ??? apa maksudmu wahai Abu Nawas!?" tanya tukang cukur tidak mengerti."Benar, tukang cukur itu tidak ada!!""Kenapa kau bilang begitu? Tukang cukur itu ada, aku... yang baru saja mencukur mu" jawab tukang cukur semakin tidak mengerti."Mustahil, jika tukang cukur itu ada tidak mungkin rambut ku menjadi sejelek ini, tentu rambutku akan lebih rapi, kenapa juga orang yang ada disudut jalan sana ada yang rambutnya kusut tidak terurus, berarti tukang cukur itu tidak ada" jawab Abu Nawas santai. "Hey Abu Nawas, itukan salah mu sendiri, kenapa kau tidak mau meneruskan cukuranmu? kenapa kau tidak meminta kepadaku untuk merapikannya?, kenapa orang2 disudut jalan sana tidak memintaku untuk mencukurnya?? seandainya dia datang kepadaku, aku akan merapikannya""Nah, berarti Tuhan itu ada !!, orang2 yang susah, melarat, sering merasa menderita itu kenapa mereka tidak mau datang dan mendekat kepada Tuhannya. 

Monday, February 24, 2014

Pemeliharaan Al-Qur'an pada masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin

Pemeliharaan Al-Qur’an pada Masa Nabi Muhammad Pada permulaan islam, bangsa Arab adalah bangsa yang buta huruf, sangat sedikit di antara mereka yang pandai menulis dan membaca. Jadi, pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi sebagian besar adalah dengan penghafalan. Setiap ada wahyu Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah, Rasulullah langsung menghafalnya dan kemudian mengajarkannya kepada para sahabatnya. Setiap tahun di bulan Ramadhan, Jibril selalu menemui dan membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah. Disamping menyuruh sahabatnya untuk menghafal Al-Qur’an, nabi juga menyuruh beberapa sahabatnya yang pandai tulis baca untuk menuliskan ayat Al-Qur’an pada kepingan tulang, pelepah kurma, kepingan batu, kulit binatang dan lainnya. Karena memang pada saat itu, bangsa arab belum mengenal kertas sebagai alat tulis yang kini kita gunakan. Menurut sumber hadis Bukhori. Bahwa tujuan orang tersebutlah yang bertanggung jawab mengumpukan Al-qur’an menurut apa yang mereka hafal itu, dan yang di hafalnya itu di kembalikan kepada Rasulullah, melalui sanad-sanad mereka ini lah Al-qur’an sampai kita seperti yang ada sekarang. Para penulis wahyu Al-Qur’an termashyur adalah: 
  1. Para Khulafahurrasyidin (Abu Bakar, Ustman, Ali, Umar) 
  2. Amir bin Fuhairah Tsabit bin Qais bin Syams 
  3. Muawwiyah bin Abu Sufyan 
  4. Muhirah bin Syu’bah 
  5. Khalid bin Walid 
  6. Amir bin Ash 
  7. Muhammad bin Maslamah 
  8. Ubay bin Ka’ab 
  9. Zaid bin Tsabit Jadi, 


pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Rasululllah adlah dengan cara penghafalan dan juga penulisan yang langsung ditulis di hadapan Rasul sendiri. Tulisan wahyu Al-Qur’an yang tertulis di benda sederhana itu disimpan di rumah Rasulullah. Pemeliharaan Al-Qur’an Masa Khalifah Abu Bakar As-shiddiq Setelah Nabi wafat, tampuk kepemimpinan di tanggung oleh Abu Bakar. Pada awal kepemimpinannya, umat islam banyak yang murtad, tidak membayar zakat dan sebagainya. Maka Khalifah Abu Bakarpun memerangi para pembangkang itu. Salah satu peperangan yang terjadi adalah peperangan Yahmamah yang terjadi pada tahun 12 H yang banyak melibatkan para penghafal Al-Qur’an, dalam peperangan ini terdapat 70 hafiz atau penghafal Al-Qur’an yang gugur. Umar bin Khatab merasa resah dengan banyaknya para sahabat penghafal Al-qur’an wafat terbunuh dalam peperangan, lalu Umar menghadap ke Abu Bakar dan menyampaikan berita tentang banyaknya hafiz yang wafat. Kecemasan ini yang membuat Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar untuk mengusahakan penghimpunan ayat Al-Qur’an menjadi satu Mushaf. Pada awalnya Abu Bakar tidak menyetujui saran umar karena pada masa Rasulullah tidak pernah dilakukan yang seperti ini. Setelah berulang kali Umar mencoba meyakinkan tentang kebaikan menghimpun Al-Qur’an dan Allah membuka pintu hati Abu Bakar sehingga Abu Bakar pun menyetujui saran Umar bin Khattab. Maka dipanggillah Zaid bin Tsabit untuk melakukan penulisan dan penghimpunan Al-Qur’an. Lalu ia mengumpulkan ayat Al-Qur’an dari benda sederhana yang masih berserakan dan para sahabat yang hafal Al-Qur’an seluruhnya dan mencocokkan dengan hafalan para sahabat yang lainnya dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Zaid selalu bertindak hati-hati dan sangat teliti. Baginya tidak cukup hanya bergantung pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Setelah satu tahun lamanya, akhirnya selesailah penghimpunan Mushaf Al-Qur’an tersebut. Demikianlah AL-Qur’an dituliskan dalam lembaran-lembaran yang diikatnya dengan benang, ayatnya tersusun dalam masing-masing suratnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah. Kemudian mushaf itu disimpan di rumah Abu Bakar, selanjutnya disimpan oleh Umar bin Khattab setelah Abu Bakar wafat. 

Masa Khalifah Umar bin Khattab Umar adalah sosok yang penting dalam penghimpunan Al-Qur’an. Dengan saran dan masukannya kepada Abu Bakar, kini Mushaf Al-Qur’an telah dibuat. Namun ketika pada masa kekhalifahannya, Umar belum memperbanyak mushaf Al-Qur’an tersebut dikarenakan memang tujuan utama Al-Qur’an dihimpun adalah untuk menjaga keasliannya saja. Setelah Umar bin Khattab wafat, Mushaf Al-Qur’an Kemudian disimpan di rumah Hafshah yang merupakan putri Khalifah Umar dan juga istri Rasulullah. 

Masa Khalifah Ustman bin Affan Pada masa khalifah Utsman, islam telah mendunia terpencar di daerah Mesir, Syiria, Irak, Persia dan Afrika. Kemana mereka pergi dan dimanapun berada, Al-Qur’an tetap menjadi panutan dan imam bagi mereka, bahkan banyak diantara mereka yang menghafalnya. Di kalangan sahabat, ternyata ada naskah atau penghafalan yang tidak sama susunan suratnya. Cara bacaannya pun menjadi beragam, penulisannya juga berbeda demikian juga dengan susunan surat dan juznya. Jika dibiarkan berlarut-larut, tentu persatuan umat islam akan tergoyahkan. Maka seorang sahabat yang bernama Hudzaifah Al-Yamani menyarankan kepada khalifah Utsman untuk mengupayakan keseragaman bacaan dan tulisan Al-Qur’an. Kemudian khalifah membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit untuk menyalin mushaf AL-Qur’an yang berada di rumah Hafshah. Zaid menyalin shuhuf Hasfah dalam lima mushaf. Empat di antaranya dikirimkan ke Mekah, Syiria, Bashrah dan Kufah. Mushaf yang satu lagi disimpan oleh Khalifah Utsman yang dinamakan Mushaf Al-Imam. Shuhuf Al-Qur’an yang semula disimpan di rumah Hafshah Kemudian dikembalikan. Setelah pembukuan Al-Qur’an selesai, Khalifah Utsman mengintruksikan untuk membakar musnah selembaran ayat Al-Qur’an yang tersebar agar tidak terjadi perbedaan lagi dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Maka dari mushaf Utsmani lah kaum muslimin di seluruh dunia menyalinnya.

Sunday, February 23, 2014

Pemeliharaan Al-Qur'an : Pengertian

Pemeliharaan Al-Qur’an yang dimaksud di sini adalah segala ketentuan dan kebijaksanaan Allah yang memungkinkan terjaganya Al-Qur’an secara murni, dengan keterlibatan malaikat dan manusia, baik Rasulullah, para sahabatnya serta umat islam setelah mereka yang melalui penghafalan, pencatatan, penulisan serta penghimpunan al-qur’an sehingga al-qur’an benar-benar terpelihara sampai sekarang dengan keadaaan murni dan utuh.
Dalam hubungan pemeliharaan Al-Qur’an, allah tidak berfirman atas kuasa diri-Nya semata, namun juga melibatkan pihak-pihak di luar diri-Nya yang ikut andil dalam pemeliharaan Al-Qur’an. Sebagaimana firmannya berikut:
إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesunggunya kami benar-benar memeliharanya (Al-Hijr: 9)
Penggunaan kata “kami” pada lafadz ayat di atas mengandung makna akan keagungan terhadap diri Allah, dan juga mengandung pengertian adanya keterlibatan pihak-pihak selain Allah yaitu Nabi, para sahabatnya, Tabi’in dan umat islam secara keseluruhan dalam hal penjagaan dan pemeliharaan Al-Qur’an.

Kebijaksanaan Allah dalam pemeliharaan Al-Qur’an
Allah menjamin kemurnian Al-Qur’an sampai hari kiamat. Jaminan-Nya tersebut dapat dilihat dalam beberapa kebijaksanaan-Nya yaitu:
1.    Allah menurunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan menetapkan Al-Qur’an terbagi dalam susunan 30 juz, 114 surat. sehingga mempermudah penghafalan dan penulisannya.
2.    Allah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa arab yang indah mempesona sehingga menarik untuk dibaca dan dihafal.
3.    Allah secara berkala mengutus malaikat Jibril untuk mengecek bacaan Nabi tentang Al-Qur’an.




Tuesday, January 21, 2014

Penemuan Terompet Sangkakala Oleh NASA. Benarkah?

Salah satu peristiwa yang akan terjadi pertama kali pada hari kiamat adalah ditiupnya sangkakala oleh Malaikat Israfil atas perintah Allah SWT.
Hal ini diingatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Di beberapa ayat lain juga banyak disebutkan mengenai sangkakala (الصُّورِ).
Terkait dengan hal ini, beredar kabar bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA) – sebuah lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa AS – telah menemukan eksistensi terompet sangkakala tersebut. Benarkah?
Menurut kabar yang telah lama beredar di internet itu, dalam salah satu misinya, NASA memiliki sebuah alat yang bernama Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP). Masih menurut kabar tersebut, alat ini untuk melakukan observasi terhadap alam semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta. Dengan alat WMAP tersebut, mereka memperoleh kesimpulan bahwa alam semesta ini berbentuk seperti terompet, sebagaimana gambar di bawah ini, demikian kabar yang beredar.

Garis waktu alam semesta. (Foto: science.nasa.gov/missions/wmap)

Beberapa kalangan berpendapat bahwa itu adalah bentuk alam semesta yang seperti terompet, dan itu merupakan gambaran terompet sangkakala. Benarkah?
Menurut Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, hal itu bukan gambaran fisik alam semesta. “Itu hanya skema pengembangan alam semesta yang semula sangat kecil, kemudian tiba-tiba berkembang cepat dalam peristiwa bigbang, lalu mengembang lambat sampai saat ini (13,7 milyar tahun setelah big bang). Jadi itu hanya diagram”, jelasnya kepada redaksi dakwatuna.
Hal ini sejalan dengan keterangan gambar “terompet” yang ada di halaman NASA. Situs NASA menjelaskan bahwa gambar “terompet” itu merupakan “garis waktu alam semesta”. Diagram yang merepresentasikan evolusi alam semesta selama lebih dari 13,7 miliar tahun. Paling kiri menggambarkan saat-saat awal yang dapat kita selidiki sekarang, ketika periode “inflasi” menghasilkan ledakan pertumbuhan eksponensial di alam semesta. Untuk beberapa miliar tahun ke depan, perluasan alam semesta secara bertahap melambat. Baru-baru ini, ekspansi mulai cepat lagi sebagai efek repulsif dari energi gelap yang telah datang untuk mendominasi perluasan alam semesta.
Jadi, sangkakala memang pasti ada dan pasti akan ditiup oleh malaikat Israfil pada saat kiamat. Namun temuan NASA tersebut bukanlah gambaran terompet sangkakala. Wallahu’alam.

Thursday, January 16, 2014

Java : Penggunaan Java.util.Collection

Collection adalah suatu obyek yang bisa digunakan untuk menyimpan sekumpulan obyek. Obyek yang ada dalam Collection disebut elemen. Collection menyimpan elemen yang bertipe Object, sehingga berbagai tipe obyek bisa disimpan dalam Collection. Class-class mengenai Collection tergabung dalam Java Collection Framework. Class-class Collection diletakkan dalam package java.util dan mempunyai dua interface utama yaitu Collection dan Map. 
Sebuah collection adalah sebuah object yang merepresentasikan kumpulan object-object. Collection digunakan untuk menyimpan, mengambil, dan memanipulasi data-data. Salah satu collection paling sederhana adalah Array. Namun dalam Collection Framework, Java menawarkan berbagai bentuk lain dari Collection.

Karena Collection adalah interface, maka harus dibuat class yang mengimplementasikannya. Dalam Java API, sudah tersedia beberapa class yang sangat berguna untuk memanage object-object dalam Collection, sesuai sifat dan kebutuhannya. Beberapa kelebihan utama menggunakan collection framework antara lain:

  • Mengurangi effort dalam membuat program, karena sudah tersedia struktur data dan algoritma tanpa harus menulis sendiri.
  • Meningkatkan performa, karena setiap implementasi dapat berfungsi maksimal sesuai kasus yang ada.
  • Mudah dipelajari, sehingga mengurangi effort untuk mempelajari cara menggunakan API.
  • Dapat dikembangkan dan fleksibel terhadap tipe object yang ada dalam Collection.


Semua class yang termasuk Java Collection Framework adalah class generics. Untuk kompatibilitas dengan versi java sebelumnya, penggunaan generics tidak diharuskan, namun sangat disarankan. Collection terbagi menjadi 3 kelompok yaitu Set, List dan Map. Berikut ini adalah struktur hierarki interface dan class yang termasuk dalam kelompok collection ini.

Java Collections Framework terbagi menjadi tiga kelompok:
•  Set
Set mengikuti model himpunan, dimana obyek/anggota yang tersimpan dalam Set harus unik. Urutan maupun letak dari anggota tidaklah penting, hanya keberadaan anggota saja yang penting. Class-class yang mengimplementasikan interface Set adalah HashSet. Interface SortedSet merupakan subInterface dari interface Set. Untuk mengurutkan Set, kita dapat menggunakan class yang mengimplementasikan interface SortedSet yaitu clas TreeSet.
•  List
List digunakan untuk menyimpan sekumpulan obyek berdasarkan urutan masuk (ordered) dan menerima duplikat. Cara penyimpanannya seperti array, oleh sebab itu memiliki posisi awal dan posisi akhir, menyisipkan obyek pada posisi tertentu, mengakses dan menghapus isi list, dimana semua proses ini selalu didasarkan pada urutannya. Class-class yang mengimplementasikan interface List adalah Vector, Stack, Linked List dan Array List.

Terdapat interface Queue yang cara penyimpanan seperti List, interface ini menyimpan obyek menggunakan metode FIFO (First In First Out) yaitu obyek yang masuk pertama keluar pertama. Class-class yang mengimplementasikan interface Queue adalah PriorityQueue  dan  LinkedList.  Data  yang  tersimpan  pada  obyek PriorityQueue akan diurutkan, data tersebut harus mengimplementasikan obyek Comparable atau Comparator.
•  Map
Perbedaaan mendasar map dengan collection yang lain, untuk menyimpan obyek pada Map, perlu sepasang obyek, yaitu key yang bersifat unik dan nilai yang disimpan. Untuk mengakses nilai tersebut maka kita perlu mengetahui key dari nilai tersebut. Map juga dikenal sebagai dictionary/kamus. Pada saat menggunakan kamus, perlu suatu kata yang digunakan untuk pencarian. Class-class yang mengimplementasikan Map adalah Hashtable,HashMap, LinkedHashMap. Untuk mengurutkan Map menggunakan interface SortedMap, class yang mengimplementasikan interface tersebut adalah TreeMap.

Sumber: http://blog.haqqi.net/ 
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Sunday, January 5, 2014

Karier Wanita dan Wanita Karier

Penulis terkenal Anne Tyler suatu ketika sedang berdiri di halaman sekolah menjemput anaknya. Tiba-tiba, seorang ibu datang mendekatinya dan berkata, “Have you found work yet? Or are you still just writing?” tanyanya lagi. “Bagaimana saya harus menjawabnya?” tanya Anne.
“Kaum wanita modern percaya bahwa mereka tidak boleh hanya duduk di rumah menanti suami dan mengurus anak-anak. Tapi, mereka berpikir, bekerja artinya berada di kantor. Keluar rumah pukul 6.00 atau pukul 7.00, lalu kembali pukul 16.00 atau pukul 17.00. Begitu terus setiap hari. Mereka akan tidak puas kalau kita tidak menyebut sebuah nama perusahaan,” imbuh Anne.
Itulah gambaran dari realitas perkembangan kehidupan sosial kaum hawa di berbagai negara, termasuk di negeri kita tercinta ini. Wanita karir, begitu kita sering mendengar istilah ini.
Disadari ataupun tidak, timbul dilema baru dalam dirinya dan kemelut berkepanjangan di dalam masyarakat. Mereka harus bekerja banting tulang untuk mencari nafkah yang biasanya merupakan tugas laki-laki. Laki-laki seolah kehilangan kesempatan pekerjaan karena “diserobot” wanita karir, hal ini menimbulkan masalah psikologis tersendiri bagi laki-laki. Tapi benarkah anggapan sejumlah orang ini?
**
TEMUAN seorang filosof bidang ekonomi, Joel Simon, menyatakan para wanita telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka.
Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan polling seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil polling tersebut didapat kesimpulan, sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka.
Pada perkembangan terkini, bagi mereka yang benar-benar menjadikan karir sebagai jalan mengaktualisasikan diri dan membentuk identitasnya, tak jarang mereka mengingkari kodratinya. Ciri-ciri wanita karir ini menurut seorang penulis di Inggris adalah, mereka tidak suka berumah tangga, tidak suka berfungsi sebagai ibu, emosinya berbeda dengan wanita non karir, dan biasanya menjadi wanita melankolis.
Masalahnya tak sampai disitu. Wanita bagaimanapun berbeda dengan kaum pria, dalam perjalanan karirnya wanita umumnya lebih sering mengalami apa yang disebut sebagai efek “langit-langit kaca” (glass ceiling). Langit-langit kaca adalah sebuah artificial barrier yang menghambat wanita mencapai posisi puncak pada suatu institusi tempat ia bekerja.
Secara faktual ia melihat posisi puncak itu dan merasa mampu ke sana, tapi pada faktanya ia terhalang oleh langit-langit kaca tersebut. Ini disebabkan karena hakikat kodratinya yang tak dapat dipungkiri, karena ia memiliki ke khasan secara fisik maupun psikis.
Secara teoritis, efek langit-langit kaca umum dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi permintaan dan sisi penawaran. Sisi permintaan berasal dari luar diri si wanita, misalnya diskriminasi di tempat bekerja, adanya budaya “kantor pria” yang sangat dominan, peraturan-peraturan kerja, dan lain sebagainya.
Langit-langit kaca ini dalam beberapa hal umumnya dapat diatasi dengan menggunakan sisi penawaran, yaitu sesuatu yang ditawarkan oleh si wanita itu sendiri. Aspek-aspek penawaran meliputi pilihan kerja, kualitas sumber daya, keterampilan yang dimiliki, dan lain sebagainya.
**
MENYINGGUNG tentang peran wanita di luar rumah, tak lepas dari isu yang banyak digulirkan, yaitu emansipasi. Namun berdasarkan asal muasal gerakan ini digulirkan (tumbuh sejak awal abad XX), propaganda gerakan ini justru munculnya dari laki-laki dan hanya terdapat sedikit saja wanita.
Awalnya gerakan emansipasi hanyalah seruan kepada pemerintah untuk memperhatikan kesempatan pendidikan akademis bagi wanita. Seruan ini cukup mendapat simpati karena aktivitasnya mengarah kepada peningkatan kecerdasan, keleluasaan generasi baru yang lebih cakap dan berkualitas.
Namun seiring perkembangan zaman mereka tidak saja menyerukan pentingnya mendapatkan pendidikan, tapi juga meneriakkan persamaan derajat, kebebasan, peningkatan karir di segala bidang. Terjadilah gerakan besar-besaran untuk mendapatkan kesempatan agar bisa tampil di luar, bekerja dan melakukan aktivitas apa saja layaknya laki-laki.
Dengan alasan wanita yang tinggal di rumah adalah wanita yang terpasung eksistensi dirinya, tidak menunjang usaha produktivitas, wanita secara intelektual sama dengan laki-laki, dengan hanya menjadi ibu rumah tangga dianggap wanita kehilangan partisipasi dalam masyarakat.
Mereka meneriakkan emansipasi dan karirisasi. Karena bagi mereka apa yang dikerjakan laki-laki dapat pula dikerjakan oleh perempuan. Mereka menyamakkan segala hal antara laki-laki dan perempuan, padahal kita tidak dapat menutup mata ada hal-hal mendasar -mungkin mereka lupa- tidak akan mungkin dapat disamai.
Informasi mengenai gerakan emansipasi dan karirisasi mendapatkan porsi publikasi politis dan bisnis secara besar-besaran. Oleh karena itu bagi mereka yang dicurigai menghalangi gerakan emansipasi disebut sebagai diskriminasi gender. Biasanya agama sering dijadikan kambing hitam sebagai media yang menghalangi gerakan tersebut.
**
LANTAS bagaimana karir wanita dalam perspektif Islam? Islam menjunjung tinggi derajat wanita. Untuk menjaga kesucian serta ketinggian derajat dan martabat kaum wanita, maka dalam kehidupan sehari-hari Islam memberikan tuntunan dengan ketentuan hukum syariat yang akan memberikan batasan dan perlindungan bagi kehidupan wanita, semuanya itu untuk kebaikan wanita, agar tidak menyimpang dari apa yang telah digariskan Allah terhadap dirinya, semuanya merupakan bukti bahwa Allah itu Ar-Rahman dan Ar-Rahim terhadap seluruh hamba-hamba-Nya.
Allah menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerja-an yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.
Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir.
Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dia tanggung juga. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya. Haruskan “beban” yang begitu berat masih digantungkan juga dengan harus mencari nafkah?
Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/ karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.
***