Friday, May 30, 2014

Nasehat Ustad: Jokowi vs Prabowo?


"Cuma menyampaikan nasihat ustad:

Jokowi adalah muslim, terlepas dari kadar keislaman dan pemahamannya terhadap Islam, dia punya kelebihan. Kelebihannya sudah sering diumbar oleh para pendukungnya di berbagai media. Semoga Allah Ta’ala memberikannya balasan yang setimpal.

Prabowo juga seorang muslim, terlepas dari kadar keislaman dan pemahamannya terhadap Islam, dia juga punya kelebihan. Kelebihannya pun juga sering diberitakan para pendukungnya di berbagi media. Semoga Allah Ta’ala memberikannya balasan yang setimpal.

Janganlah kelebihan kedua orang ini membuat masing-masing pendukung buta mata, mati akal, dan kerasnya hati, sampai membela keduanya secara membabi buta dan serampangan, hingga mendudukannya sekelas nabi.

Jokowi adalah seorang manusia, maka dia punya banyak kekurangan dan kesalahan. Sebagaimana kekurangannya itu disebarkan oleh lawan-lawannya juga melalui berbagai media. Semoga Allah Ta’ala mengampuninya atas kekurangan dan kesalahannya itu, dan mau menerima taubatnya jika dia bertaubat, karena ampunan-Nya begitu luas.

Prabowo juga seorang manusia, maka dia punya banyak kekurangan dan kesalahan. Sebagaimana kekurangannya itu juga disebarkan oleh lawan-lawannya melalui berbagai media. Semoga Allah Ta’ala mengampuninya juga, dan mau menerima taubatnya jika dia bertaubat, karena ampunan-Nya begitu luas.

Janganlah kekurangan dan kesalahan kedua orang ini membuat lahirnya mata kebencian dari pendukung masing-masing, lalu olok-olok, caci maki, serapah, dan fitnah, sampai mereka menjadikan lawannya sekelas setan.

Pujilah yang perlu dipuji, dan kultus bukanlah pujian…

Kritiklah yang perlu dikritik, dan fitnah bukanlah kritikan…

Pilihlah salah satu di antara mereka berdua, bukan karena benci dan cinta buta kepada pribadi, tapi karena ingin membangun negeri Indonesia, bumi Allah, bumi kaum muslimin…

Kita harus memilih salah satunya, karena tidak mungkin memilih keduanya sekaligus, tidak mungkin pula membiarkan keduanya sekaligus…

Ketika kita memilih A, bukan karena membenci dan memusuhi B, bukan pula karena B tidak cakap dan tidak mampu….

Ketika kita tidak memilih B, bukan karena A lebih jago, cakap dan mampu dibanding B. Karena selama keduanya masih “Capres” maka keduanya sama-sama belum teruji kemampuannya sebagai Presiden. Namanya juga calon, belum ngapa-ngapain, baru rencana dan impian.

Ketahuilah, cinta secara ekstrem itu buruk, dan benci secara ekstrem juga zhalim. Posisikanlah kedua Capres ini sebagai manusia biasa. Bukan malaikat, nabi, apalagi Rabb semesta alam. Tapi jangan pula posisikan mereka seperti setan yang jahat.

Bagi seorang muslim, al- Quran dan as- Sunnah adalah panduan, kapan pun dan di mana pun, dan dalam hal apa pun. Keduanya adalah pegangan hidup yang telah bergaransi anti sesat dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pilihlah Capres yang lebih kecil keburukannya, ketika kita tahu semuanya memiliki keburukan. Sesuai kaidah irtikab akhafu dhararain (menjalankan kerusakan yang lebih ringan di antara dua kerusakan).

Pilihlah Capres yang lebih berpihak dan mengajak kepada shirathal mustaqim, Islam, dan al-Quran, yang semakin membuat kita dekat dengan Allah Ta’ala, bukan justru semakin jauh dari Allah Ta’ala dan agama, hura-hura dan maksiat, ketika kita mengetahui bahwa kedua Capres ini pasti memiliki goal setting dalam hidup mereka. Sesuai firman-Nya, “Inna Haadzal Quran Yahdi Lillati Hiya Aqwam,” (Sesungguhnya al-Quran memberikan petunjuk ke jalan yang lebih lurus).

Pilihlah Capres yang lebih dicintai ulama dan dekat dengannya, mereka pun juga mencintai ulama dan menjadikan ulama sebagai tempat bertanya. Bukan hanya ketika kampanye saja, bukan pula sowan kepada musuh-musuh agama, ketika kita tahu bahwa ulama lebih paham tentang standar baik dan buruk, benar dan salah, dibanding orang kebanyakan. Sesuai firman-Nya, “Fas’aluu Ahlaz Zikri Inkuntum Laa Ta’amun,” (Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui). Juga sabda nabi, “Al-mar’u ‘Alad Diini Khaliilih,” (Keadaan agama seseorang tergantung siapa kekasihnya).

Pilihlah Capres yang di sekelilingnya berkumpul ahlul khair (pelaku kebaikan), bukan ahlul ma’shiyah (pelaku maksiat), ahlut thaa’ah (taat) bukan ahlul hawa (penyembah hawa nafsu). Sesuai sabda nabi, “Al Arwaahu Junuudun Mujannadah,” (Sesungguhnya jiwa-jiwa itu akan berkomunitas dengan orang yang setipe dengannya).

Pilihlah Ccapres yang track record-nya jujur bukan pendusta. Karena nabi bersabda, “‘Alaikum Bish Shidqi Inna Shidqa Yahdi Ilal Birr Wal Birru Yahdi Ilal Jannah,” (Hendaknya kamu jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga).

Pilihlah Capres yang track record-nya bukan pendusta, karena berdusta adalah penyakit jiwa yang sulit sembuhnya. Ketika sudah terbiasa berdusta, maka korbannya bukan lagi satu manusia tapi satu negeri. Karena nabi bersabda, “Wa Iyyakum Wal Kadzib, Innal Kadziba Yahdi Ilal Fujuur Wal Fujuur Yahdi Ilan Naar,” (Takutlah kamu terhadap dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka).

Pilihlah Capres yang mampu menjaga amanah bukan mengkhianatinya. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Yaa Ayyuhalladzina Amanuu Awfuu Bil ‘Uquud,” (Wahai orang-orang beriman penuhilah janji-janji kalian). Firman-Nya juga, “Laa Takhuunullah wa Rasuul wa Takhuunuu Amanaatikum wa Antum Ta’lamun,” (Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan mengkhianati amanah yang ada pada kalian dan kalian sendiri tahu hal itu).

Pilihlah Capres yang mampu bekerja secara genuine bukan dibesar-besarkan, dan puja puji oleh media semata, sebab kita memilih Presiden bukan aktor sandiwara.

Pilihlah capres yang kuat dan pemberani, itu modal untuk keselamatan negaramu dari serangan asing, dan modal perlindungan untuk rakyatnya.

Selamat memilih!! Semoga Allah Ta’ala memberkahi."

oleh : Ust. Farid Numan
Tulisan by Uda Fajri melalui Facebook

Monday, April 7, 2014

Pendaftaran Bujang & Dara kota Pekanbaru tahun 2014


Pendaftaran Bujang & Dara kota Pekanbaru tahun 2014

Syarat :                                        
- mengisi formulir pendaftaran yang dapat diambil di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Pekanbaru jalan Arifin Ahmad No. 39
- Warga Negara Indonesia (WNI) dan wajib memiliki KTP kota Pekanbaru
- usia 18 hingga 24 tahun
- tinggi minimal Bujang 170 cm dan minimal Dara 165 cm
- minimal tamatan SMA/SMK/sederajat
- berpenampilan menarik dan cerdas
- memiliki pengetahuan tentang pariwisata dan kebudayaan Riau khususnya Pekanbaru
- belum menikah
- berkelakuan baik dan bebas dari narkoba
- belum pernah terpilih sebagai pemenang atau pun finalis Bujang dan Dara kota Pekanbaru maupun provinsi Riau
- mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, minimal bahasa inggris
- tidak memakai kawat gigi (behel)

Jadwal Kegiatan :
- pendaftaran dimulai dari tanggal 1 hingga 11 April 2014
- pengumuman seleksi administrasi tanggal 11 April 2014
- interview yang lulus administrasi pada tanggal 12 April 2014
- Pengumuman 20 besar Bujang dan Dara pada tanggal 13 April pukul 09.00
- seleksi minat dan bakat pada tanggal 14 April 2014 sekaligus pengumuman 12 finalis Bujang dan Dara
- pembekalan dan pembinaan 12 finalis pada tanggal 15-17 April 2014
- malam puncak pemilihan Bujang dan Dara kota Pekanbaru pada tanggal 19 April 2014

Thursday, April 3, 2014

Dan Ketika Seorang Menteri RI Mengontrak Rumah

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang padat rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang besar. Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah dan kasur-kasu digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan anak-anaknya. 
Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri. 
Begitulah seperti dikisahkan Mr. Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan, Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan bahwa H. Agus Salim hidup sebagai Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah kontrakkan ke kontrakkan lain. Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali Agus Salim pindah rumah bersama keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin,” kata Profesor Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi Khusus Agus Salim) Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya rusak. Setiap Agus Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun menangis sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber. Zainatun Nahar istrinya,tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia muntah-muntah. 
Agus Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC dan ia sendiri yang membuang kotoran istirnya menggunakan pispot. Kasman Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama), dalam ‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling terkenal: “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim. Lihatlah bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan, tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas ke luar negeri untuk pelesiran, dll. Saat salah satu anak Salim wafat ia bahkan tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.” 
Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’ Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.” Ya, seorang diplomat ulung, menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah. Seorang yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan gemerlap jantung kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan nurani rakyat. Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas tambal, mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri keuangan Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga Allah hadirkan mereka, sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah gemerlap karpet merah Istana dan Senayan.

Kisah Abu nawas dan Tukang Cukur

"Hay Abu Nawas !! aku lihat kau selalu datang ke masjid itu dan melakukan shalat, kau ini menyembah apa?" tanya tukang cukur sambil mencukur rambut Abu Nawas.Abu Nawas terkejut. "Hah, kenapa kau tanya seperti itu ? Aku Menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, Yang telah menciptakan kita!" jawab Abu Nawas."Hahahahaha, Tuhan yang mana wahai abu nawas? Tuhan itu tidak ada !! buktinya jika Tuhan itu ada tidak mungkin akan ada orang yang melarat didunia ini, tidak akan ada orang yg susah, orang yg hidupnya sering menderita !!, tidak mungkin jika Tuhan Yang Maha Penyayang itu benar2 ada!" sanggah tukang cukur."Ya sudahlah kalau begitu, aku tidak mau di cukur olehmu, sudah saja" jawab abu nawas" Kenapa? cukurannya belum selesai, rambutmu akan terlihat aneh jika berhenti sekarang"Abu Nawas tidak menjawab dan membersihkan pakaiannya dari rambut. 
Iya diam sejenak lalu melihat ke cermin. Tiba2 saja dia berujar."Hai tukang cukur, sebenarnya tukang cukur itu tidak ada!!!""hah?? Apa ??? apa maksudmu wahai Abu Nawas!?" tanya tukang cukur tidak mengerti."Benar, tukang cukur itu tidak ada!!""Kenapa kau bilang begitu? Tukang cukur itu ada, aku... yang baru saja mencukur mu" jawab tukang cukur semakin tidak mengerti."Mustahil, jika tukang cukur itu ada tidak mungkin rambut ku menjadi sejelek ini, tentu rambutku akan lebih rapi, kenapa juga orang yang ada disudut jalan sana ada yang rambutnya kusut tidak terurus, berarti tukang cukur itu tidak ada" jawab Abu Nawas santai. "Hey Abu Nawas, itukan salah mu sendiri, kenapa kau tidak mau meneruskan cukuranmu? kenapa kau tidak meminta kepadaku untuk merapikannya?, kenapa orang2 disudut jalan sana tidak memintaku untuk mencukurnya?? seandainya dia datang kepadaku, aku akan merapikannya""Nah, berarti Tuhan itu ada !!, orang2 yang susah, melarat, sering merasa menderita itu kenapa mereka tidak mau datang dan mendekat kepada Tuhannya. 

Monday, February 24, 2014

Pemeliharaan Al-Qur'an pada masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin

Pemeliharaan Al-Qur’an pada Masa Nabi Muhammad Pada permulaan islam, bangsa Arab adalah bangsa yang buta huruf, sangat sedikit di antara mereka yang pandai menulis dan membaca. Jadi, pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi sebagian besar adalah dengan penghafalan. Setiap ada wahyu Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah, Rasulullah langsung menghafalnya dan kemudian mengajarkannya kepada para sahabatnya. Setiap tahun di bulan Ramadhan, Jibril selalu menemui dan membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah. Disamping menyuruh sahabatnya untuk menghafal Al-Qur’an, nabi juga menyuruh beberapa sahabatnya yang pandai tulis baca untuk menuliskan ayat Al-Qur’an pada kepingan tulang, pelepah kurma, kepingan batu, kulit binatang dan lainnya. Karena memang pada saat itu, bangsa arab belum mengenal kertas sebagai alat tulis yang kini kita gunakan. Menurut sumber hadis Bukhori. Bahwa tujuan orang tersebutlah yang bertanggung jawab mengumpukan Al-qur’an menurut apa yang mereka hafal itu, dan yang di hafalnya itu di kembalikan kepada Rasulullah, melalui sanad-sanad mereka ini lah Al-qur’an sampai kita seperti yang ada sekarang. Para penulis wahyu Al-Qur’an termashyur adalah: 
  1. Para Khulafahurrasyidin (Abu Bakar, Ustman, Ali, Umar) 
  2. Amir bin Fuhairah Tsabit bin Qais bin Syams 
  3. Muawwiyah bin Abu Sufyan 
  4. Muhirah bin Syu’bah 
  5. Khalid bin Walid 
  6. Amir bin Ash 
  7. Muhammad bin Maslamah 
  8. Ubay bin Ka’ab 
  9. Zaid bin Tsabit Jadi, 


pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Rasululllah adlah dengan cara penghafalan dan juga penulisan yang langsung ditulis di hadapan Rasul sendiri. Tulisan wahyu Al-Qur’an yang tertulis di benda sederhana itu disimpan di rumah Rasulullah. Pemeliharaan Al-Qur’an Masa Khalifah Abu Bakar As-shiddiq Setelah Nabi wafat, tampuk kepemimpinan di tanggung oleh Abu Bakar. Pada awal kepemimpinannya, umat islam banyak yang murtad, tidak membayar zakat dan sebagainya. Maka Khalifah Abu Bakarpun memerangi para pembangkang itu. Salah satu peperangan yang terjadi adalah peperangan Yahmamah yang terjadi pada tahun 12 H yang banyak melibatkan para penghafal Al-Qur’an, dalam peperangan ini terdapat 70 hafiz atau penghafal Al-Qur’an yang gugur. Umar bin Khatab merasa resah dengan banyaknya para sahabat penghafal Al-qur’an wafat terbunuh dalam peperangan, lalu Umar menghadap ke Abu Bakar dan menyampaikan berita tentang banyaknya hafiz yang wafat. Kecemasan ini yang membuat Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar untuk mengusahakan penghimpunan ayat Al-Qur’an menjadi satu Mushaf. Pada awalnya Abu Bakar tidak menyetujui saran umar karena pada masa Rasulullah tidak pernah dilakukan yang seperti ini. Setelah berulang kali Umar mencoba meyakinkan tentang kebaikan menghimpun Al-Qur’an dan Allah membuka pintu hati Abu Bakar sehingga Abu Bakar pun menyetujui saran Umar bin Khattab. Maka dipanggillah Zaid bin Tsabit untuk melakukan penulisan dan penghimpunan Al-Qur’an. Lalu ia mengumpulkan ayat Al-Qur’an dari benda sederhana yang masih berserakan dan para sahabat yang hafal Al-Qur’an seluruhnya dan mencocokkan dengan hafalan para sahabat yang lainnya dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Zaid selalu bertindak hati-hati dan sangat teliti. Baginya tidak cukup hanya bergantung pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Setelah satu tahun lamanya, akhirnya selesailah penghimpunan Mushaf Al-Qur’an tersebut. Demikianlah AL-Qur’an dituliskan dalam lembaran-lembaran yang diikatnya dengan benang, ayatnya tersusun dalam masing-masing suratnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah. Kemudian mushaf itu disimpan di rumah Abu Bakar, selanjutnya disimpan oleh Umar bin Khattab setelah Abu Bakar wafat. 

Masa Khalifah Umar bin Khattab Umar adalah sosok yang penting dalam penghimpunan Al-Qur’an. Dengan saran dan masukannya kepada Abu Bakar, kini Mushaf Al-Qur’an telah dibuat. Namun ketika pada masa kekhalifahannya, Umar belum memperbanyak mushaf Al-Qur’an tersebut dikarenakan memang tujuan utama Al-Qur’an dihimpun adalah untuk menjaga keasliannya saja. Setelah Umar bin Khattab wafat, Mushaf Al-Qur’an Kemudian disimpan di rumah Hafshah yang merupakan putri Khalifah Umar dan juga istri Rasulullah. 

Masa Khalifah Ustman bin Affan Pada masa khalifah Utsman, islam telah mendunia terpencar di daerah Mesir, Syiria, Irak, Persia dan Afrika. Kemana mereka pergi dan dimanapun berada, Al-Qur’an tetap menjadi panutan dan imam bagi mereka, bahkan banyak diantara mereka yang menghafalnya. Di kalangan sahabat, ternyata ada naskah atau penghafalan yang tidak sama susunan suratnya. Cara bacaannya pun menjadi beragam, penulisannya juga berbeda demikian juga dengan susunan surat dan juznya. Jika dibiarkan berlarut-larut, tentu persatuan umat islam akan tergoyahkan. Maka seorang sahabat yang bernama Hudzaifah Al-Yamani menyarankan kepada khalifah Utsman untuk mengupayakan keseragaman bacaan dan tulisan Al-Qur’an. Kemudian khalifah membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit untuk menyalin mushaf AL-Qur’an yang berada di rumah Hafshah. Zaid menyalin shuhuf Hasfah dalam lima mushaf. Empat di antaranya dikirimkan ke Mekah, Syiria, Bashrah dan Kufah. Mushaf yang satu lagi disimpan oleh Khalifah Utsman yang dinamakan Mushaf Al-Imam. Shuhuf Al-Qur’an yang semula disimpan di rumah Hafshah Kemudian dikembalikan. Setelah pembukuan Al-Qur’an selesai, Khalifah Utsman mengintruksikan untuk membakar musnah selembaran ayat Al-Qur’an yang tersebar agar tidak terjadi perbedaan lagi dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Maka dari mushaf Utsmani lah kaum muslimin di seluruh dunia menyalinnya.

Sunday, February 23, 2014

Pemeliharaan Al-Qur'an : Pengertian

Pemeliharaan Al-Qur’an yang dimaksud di sini adalah segala ketentuan dan kebijaksanaan Allah yang memungkinkan terjaganya Al-Qur’an secara murni, dengan keterlibatan malaikat dan manusia, baik Rasulullah, para sahabatnya serta umat islam setelah mereka yang melalui penghafalan, pencatatan, penulisan serta penghimpunan al-qur’an sehingga al-qur’an benar-benar terpelihara sampai sekarang dengan keadaaan murni dan utuh.
Dalam hubungan pemeliharaan Al-Qur’an, allah tidak berfirman atas kuasa diri-Nya semata, namun juga melibatkan pihak-pihak di luar diri-Nya yang ikut andil dalam pemeliharaan Al-Qur’an. Sebagaimana firmannya berikut:
إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesunggunya kami benar-benar memeliharanya (Al-Hijr: 9)
Penggunaan kata “kami” pada lafadz ayat di atas mengandung makna akan keagungan terhadap diri Allah, dan juga mengandung pengertian adanya keterlibatan pihak-pihak selain Allah yaitu Nabi, para sahabatnya, Tabi’in dan umat islam secara keseluruhan dalam hal penjagaan dan pemeliharaan Al-Qur’an.

Kebijaksanaan Allah dalam pemeliharaan Al-Qur’an
Allah menjamin kemurnian Al-Qur’an sampai hari kiamat. Jaminan-Nya tersebut dapat dilihat dalam beberapa kebijaksanaan-Nya yaitu:
1.    Allah menurunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan menetapkan Al-Qur’an terbagi dalam susunan 30 juz, 114 surat. sehingga mempermudah penghafalan dan penulisannya.
2.    Allah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa arab yang indah mempesona sehingga menarik untuk dibaca dan dihafal.
3.    Allah secara berkala mengutus malaikat Jibril untuk mengecek bacaan Nabi tentang Al-Qur’an.




Tuesday, January 21, 2014

Penemuan Terompet Sangkakala Oleh NASA. Benarkah?

Salah satu peristiwa yang akan terjadi pertama kali pada hari kiamat adalah ditiupnya sangkakala oleh Malaikat Israfil atas perintah Allah SWT.
Hal ini diingatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Di beberapa ayat lain juga banyak disebutkan mengenai sangkakala (الصُّورِ).
Terkait dengan hal ini, beredar kabar bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA) – sebuah lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa AS – telah menemukan eksistensi terompet sangkakala tersebut. Benarkah?
Menurut kabar yang telah lama beredar di internet itu, dalam salah satu misinya, NASA memiliki sebuah alat yang bernama Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP). Masih menurut kabar tersebut, alat ini untuk melakukan observasi terhadap alam semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta. Dengan alat WMAP tersebut, mereka memperoleh kesimpulan bahwa alam semesta ini berbentuk seperti terompet, sebagaimana gambar di bawah ini, demikian kabar yang beredar.

Garis waktu alam semesta. (Foto: science.nasa.gov/missions/wmap)

Beberapa kalangan berpendapat bahwa itu adalah bentuk alam semesta yang seperti terompet, dan itu merupakan gambaran terompet sangkakala. Benarkah?
Menurut Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, hal itu bukan gambaran fisik alam semesta. “Itu hanya skema pengembangan alam semesta yang semula sangat kecil, kemudian tiba-tiba berkembang cepat dalam peristiwa bigbang, lalu mengembang lambat sampai saat ini (13,7 milyar tahun setelah big bang). Jadi itu hanya diagram”, jelasnya kepada redaksi dakwatuna.
Hal ini sejalan dengan keterangan gambar “terompet” yang ada di halaman NASA. Situs NASA menjelaskan bahwa gambar “terompet” itu merupakan “garis waktu alam semesta”. Diagram yang merepresentasikan evolusi alam semesta selama lebih dari 13,7 miliar tahun. Paling kiri menggambarkan saat-saat awal yang dapat kita selidiki sekarang, ketika periode “inflasi” menghasilkan ledakan pertumbuhan eksponensial di alam semesta. Untuk beberapa miliar tahun ke depan, perluasan alam semesta secara bertahap melambat. Baru-baru ini, ekspansi mulai cepat lagi sebagai efek repulsif dari energi gelap yang telah datang untuk mendominasi perluasan alam semesta.
Jadi, sangkakala memang pasti ada dan pasti akan ditiup oleh malaikat Israfil pada saat kiamat. Namun temuan NASA tersebut bukanlah gambaran terompet sangkakala. Wallahu’alam.